Bang Doel, Aku Ini Wong Betawi Lho.

No Comments
Si doel Anak Sekolahan
Sumber : Bintang.com

Selepas zuhur, siang hingga menjelang sore nanti, emac lekat sekali menonton televisi

Setidaknya 3 jam, waktu yang diluangkan Emac menonton Si Doel. Iya, si tukang insinyur betawi asli itu.

Menonton serial lawas ini, mungkin membangkitkan kenangan pada masa lalu emac. Saat itu beliau sedang apa ya? Kalau yang saat bisa saya ingat sih, emac sedang galak - galaknya. Misal dalam urusan mengaji.

Wah. Ngeri kalau saya sampai ketahuan membolos. Walaupun, tidak kurang juga kreativitas saya untuk membolos mengaji.

Waktu itu, saya masih kecil ketika pertama kali menonton si anak betawi. Waktu tayangnya sore hari, menjelang maghrib. Saya menonton sebelum berangkat mengaji.

Dekat sih mengajinya, dengan pak Kyai di sebelah rumah. Kami dulu mengira beliau ini Betawi asli, ternyata urang Sunda.

Sering membolos sih waktu itu. Kalau bolos, Emac akan memukul. Entah harus bersedih atau berterima kasih, tapi karena rasa takut bolos mengaji, saya 3x khatam quran dalam periode tersebut. Berhenti karena pak Kyai wafat. Anak - anaknya sempat meneruskan hingga menyerah.

Sekarang pengajian dilanjutkan oleh satu keluarga Betawi asli sini. Anak - anak akhirnya punya alternatif nongkrong sore hari dibandingkan di pertigaan depan warung nasi punya orang Tegal itu.

Kembali ke Betawi kembali ke si Doel.

Menonton si Doel dulu hanya sekedar kenikmatan waktu luang. Nah, menontonnya sekarang ternyata menjawab banyak pertanyaan yang waktu itu sih tidak dirasa terlalu penting buat anak kecil

Yang pertama, Si Doel adalah Sarjana Teknik Mesin. Dulunya saya kira dia ini sarjana Teknik Sipil bahkan arsitek. waktu itu kenapa ya Insinyur di kepala saya dekat sekali dengan arsitek?

Terjawab juga pertanyaan kenapa Benyamin sebagai babeh melarang si Doel kerja di kapal pesiar dengan kalimatnya yang melegenda

" Orang - orang pade dateng kesini ( Jakarta ) nyari kerjaan, nah lu kenapa pengen merantau ? "

Babeh tentu lah orang yang amat idealis. Beliau ingin si Doel disini,membangun Jakarta, membanggakan orang Betawi. Tidak kalah dengan para pendatang yang memenuhi jengkal kampung bernama Jakarta

Gara - gara teknik mesin ini, terjawab juga kenapa Si Doel handal sekali membetulkan mesin opelet, juga mesin pabrik ayahnya Zaenab.

Lha dulu saya awam. Saya kira tukang insinyur itu ya tukang yang bawa - bawa pensil, kertas gambar dan palu buat membangun. Mohon maaf waktu itu pemahaman saya atas seorang sarjana teknik tidak jauh - jauh dari tukang bangunan.

Hubungan cinta Zaenab - Sarah - Si Doel lah yang masih misteri. Pada kebanyakan episode, Si Doel ini nyaris pengangguran, tapi tidak lepas - lepas kedua  mengharapkan si Doel.

Zaman sekarang, apa iya para wanita ingin lengket dengan yang model begini ? Saya menduga ini akibat kumisnya yang tampak amat menjanjikan itu.

Padahal tidak terhitung kedua wanita dihubungkan dengan pria - pria lain lho.

Zaenab misalnya, dalam serial dijodohkan dengan Koh Ahong yang nampaknya adalah bos pabrik lain atau supplier mesin produksi. Hubungan Koh Ahong dan Zaenab yang disampaikan lewat serial ini juga seakan mengingatkan kita bahwa ( kebudayaan ) Betawi sebenarnya begitu dekat dengan Tionghoa.

Sehingga interaksi kedua kebudayaan nampak cair sekali di serial ini. Bahkan pernikahan antar sesamanya pun bukanlah tabu.

Kita juga bisa ingat, Tidak hanya dengan Tionghoa, tapi bagaimana juga Betawi sedemikian dekat dengan Jawa ( Tengah ) yang digambarkan dengan naik turun hubungan keluarga si Doel dengan keluarga mas Karyo.

Dan tentu saja, cerita si Jawa yang mengontrak rumah dari si Betawi sudah tidak asing. Jangan - jangan kamu juga yaa ngontrak sama orang Betawi kaan ?

Mas Karyo yang Jawa, menyukai Atun yang Betawi, Mandra menyukai Nunung. Betawi menyukai Jawa. Atun adalah adik dari Si Doel. Keponakan dari Mandra. Sedangkan Nunung adalah adik dari mas Karyo.

Hubungan antara Betawi - Jawa seperti ini tentu sudah umum kamu temui di masa sekarang. Pada komunitas kami yang dari Pekalongan pun begitu, entah sudah berapa banyak pernikahan Betawi - Jawa terjadi.

" Ya kan kite pengen juga ngerasain pulang kampung kayak orang - orang, Jawa " adalah salah satu alasan yang pernah saya dengar.

Orang Betawi memang begitu cair terhadap orang dari budaya lain. Dan tanah Jakarta-nya adalah tempat yang dengan baik telah menyambut orang dari berbagai daerah.

Si Rano Karno pemeran Si Doel pun bahkan tidak berasal dari Betawi, karena secara keturunan, beliau berasal dari Bonjol, Sumatera Barat. Lebih kurang beliau adalah seorang Minang. Para pemimpin tanah ini pun telah datang dari orang berdarah Jawa, Gorontalo, Arab, hingga Tionghoa.

Saking lamanya tinggal di Betawi, saya kadang merasa saya ini sekian persen Betawi karena tanah dan airnya, sekian persen Jawa karena  darahnya. Mungkin ini pun yang dirasakan Rano Karno yang Minang hingga Sandiaga Uno yang Gorontalo.

Jadi ya saya merasa semacam Wong Betawi gitu.

Terimakasih Si Doel, Terimakasih Betawi.
Previous PostPosting Lama Beranda