Inspirasi Dari Mahasiswa Berprestasi

No Comments
Angga Wiratama Lokeswara
Add caption



Saat itu, di panggung utama Bedah Kampus, sedang ada sesi dari Mahasiswa Berprestasi ( Mapres ) UI

Pada waktu saya kelas 3 SMA, Mapres UI adalah seorang mahasiswa jurusan Hubungan Internasional (HI) bernama Shofwan Al Banna Choiruzzad. Nama bekennya Shofwan ABCD Saat ini kalau saya tidak salah  adalah ketua program HI UI

Diluar itu, sudah banyak barang tentu kiprahnya yang bisa kamu temukan tumpah ruah dengan mudah dengan meluangkan waktu mencari di internet

Tidak banyak sih yang saya ingat dari sesi tersebut kecuali 3 hal ini

Pertama, sang Mapres, berbicara di atas panggung dengan berpakaian seadanya dan bersarung ! Sebuah aksi nyeleneh yang menjadi gimmick untuk diingat bertahun kemudian. Padahal ketika itu narasumber lainnya adalah pejabat kampus. Entah Wakil Rektor atau Direktur

Yang kedua, sang Mapres, terkait pakaian bersarungnya tersebut mengkritik budaya formal ( berpakaian ) kita yang berpakem ke bangsa lain, dalam hal ini dunia Barat. Beliau mengkritisi bagaimana bisa setelan jas, dasi dan sepatu pantofel adalah formal dibandingkan baju koko, bersarung dan bersandal

Beliau juga mengklaim beberapa kali berkuliah mengenakan setelan sarung seperti ini. Yah. Kamu bayangkan saja deh gimana kalau ada teman sekelas mu datang ujug-ujug sarungan. Hahaha. Walaupun menurut saya pribadi argumen beliau ini ada benarnya. Seharusnya, kita, bangsa Indonesia punya standar formal sendiri, berdasarkan karakter dan budaya bangsa.

Bagi komunitas Nahdliyin, yang jumlahnya teramat banyak, bersarung dalam acara - acara formal, akademis, seremonial, adalah hal yang biasa

Dan terakhir, saya ingat beliau berbicara bahwa secara rutin 2 - 3 hari seminggu tidur di stasiun atau terminal. Hah ? Ngapain ? Kurang kerjaan banged ?

Beliau berharap dengan melakukan kebiasaan tersebut, empatinya terhadap hidup masyarakat kecil yang berkekurangan akan terus terlatih. Meninggalkan kemapanan dan kenyamanan hidup itu sulit lho. Dan mengutip apa kata Andrea Hirata pada salah satu novelnya

Pikiran dan rasa orang miskin hanya bisa dimengerti oleh orang miskin

Jadi tentu ada pemahaman yang lebih benar jika kita sesekalin merasakan seperti apa miskin itu untuk kemudian pada saatnya bertindak, membantu, membuat program tentang pemberantasan kemiskinan

Bulan Ramadhan ini sebenarnya adalah waktu yang teramat baik untuk kita berlarih empati itu. Sayangnya, dengan kebiasaan kita makan berlebih - lebih, menghamburkan uang, membuang makanan kebanyakan, teramat sulit untuk empati itu hadir diantara kita

Siapa sangka pengalaman pada hari itu sedemikian membekas, sehingga seorang Abas kemudian menargetkan ketika jadi mahasiswa nanti harus jadi Mahasiswa Berprestasi di kampusnya


Yang... Tentu saja jauh panggang dari api

Batal kuliah dari STT Telkom lalu UGM, menjalani kehidupan di kampus UI ternyata cukup sulit, untuk berprestasi, hehe. Apalagi jika ditambah ingin aktif berorganisasi kemudian bekerja untuk menyambung asa hidup. Aish... Haha😂

Ternyata sulit sekali berprestasi di UI, apalagi jika sedari awal kamu telah membangunnya dengan cara yang salah

Saya tidak terlalu menyesal sih. Yang paling terasa adalah ketika Wisuda, saya makin yakin bahwa saya ini bukan apa - apa di almamater dibandingkan ribuan sarjana lain. Apalagi diluar nanti. Amat banyak yang harus saya lakukan untuk menjadi figur yang berdampak dan bermanfaat seperti bang Shofwan dan lainnya

Turun dari tangga Balairung UI dan bertemu keluarga saya, Ibu, Bapak, para Kakak, saya galau sekali. Rasanya, ternyata 5 tahun di UI saya tidak banyak melakukan sesuatu

Beruntung dari tahun ke tahun, pokoknya saya harus punya kesempatan bertemu untuk berdiskusi / mendengarkan figur - figur seperti mahasiswa berprestasi ini. Seperti setiap tahunnya bimbel kami, Bimbel Salman, mengundang Mapres UI untuk berbicara kepada para siswa/i kami. Di tahun - tahun mendatang ingin juga saya datangkan mapres ITB, UGM, STAN dan lainnya

Agar para peserta, mereka yang baru lulus dari SMA ini paham dan mengerti. Bahwa di kampus nanti kamu tidak sekedar jadi kuli akademia, namun dapat menjadi figur yang , berprestasi, berempati, dan beraksi untuk kemashlahatan banyak orang

Seperti tahun ini kami mengundang Angga Wiratama Lokeswara, Mapres UI dari Fakultas Kedokteran, yang cerdas, komunikatif dan merakyat. Aish... haha😂

Belakangan saya punya stereotipe skeptis terhadap profil mahasiswa FK:

Borju
Sombong
Egois
Materialistis

Namun, sepertinya pandangan saya itu meleset dari sosok seorang Angga

" Kamu tahu gak kenapa kamu kami pilih jadi Mahasiswa Berprestasi Utama ? "

cerita Angga mengulang cerita cuplikan momennya dengan dewan juri.

" Diantara finalis lain, kamu lah yang kami lihat paling memiliki empati "

demikian kata juri kepadanya di malam final pemilihan Mapres Utama UI itu.

Menjadi seorang mahasiswa berprestasi UI, memang tidak hanya dinilai dari CV prestasi akademis dan kemampuan akademis, namun juga hasil dari Psikotes. Dan pada ujian ini, besar nilai empati seseorang mungkin dapat diketahui

Misi Angga Wiratama sederhana, dia ingin dirinya, empatinya, ilmunya, punya andil peran dalam kesehatan kehamilan para ibu, sehingga angka kematian bayi bisa ditekan

Pada hari itu, saya sudah mengagumi dirinya, bersama deretan figur lain yang tidak cuma numpang hidup di duniaini

Bagaimana dengan diri mu ? Apakah kamu seorang Mahasiswa Berprestasi pada masa mu masing - masing ?
Previous PostPosting Lama Beranda