Emac dan Pengajiannya

No Comments


Pengajian, buat emac bukan sekedar rutinitas terkait nilai ibadahnya sebagai seorang muslimah. Buat emac, pengajian adalah gaya hidup.

Emac, di usianya, bergerak, bertindak, hidup, dengan pengajian sebagai pusatnya.

Pada 7 hari seminggu, 5 hari emac beraktivitas dalam pengajian. Mulai dari pengajian masjid Al-Falah, pengajian masjid Baitul Halim, pengajian ibu - ibu RW, pengajian ustadz Faiz, dan pengajian ala - ala kasual. Kasual dalam artian diadakan terkait suatu kejadian sesekali seperti sunatan, tasyakuran, hingga walimahan.

Selain tempat - tempat yang aku sebutkan itu, Emac juga mengaji selepas solat maghrib. Jika aku beruntung sedang ada di rumah pada waktu - waktu itu, aku mendengarkan Emac dari kamar sebelah. Sengaja hening, ku lepaskan segala kesibukan memegang gawai atau buku demi mendengar Emac terbata - bata membaca Al-Quran.

Emac membaca kalam - kalam itu pada Al-Quran favoritnya yang beraksara besar - besar. Dengan sampul kuning nya yang khas. Al-Quran itu diberikan langsung oleh guru ngaji Emac. Sampai sekarang, Emac tidak ingin menggunakan Al-Quran lain.

" Belajar. Biar bisa ngaji sendiri "

kata Emac suatu waktu.

Sebenarnya aku saat itu tidak bertanya tentang alasan beliau mengaji. Tapi, ketika itu aku menawarkan mengantar Emac ke pengajiannya. Daripada berjalan kaki melewati gang - gang kampung menuju lokasi pengajian.

Jawaban emac itu membuat ku mengingat - ngingat waktu - waktu yang telah lampau. Seingat ku memang, emac baru " tampak mengaji " pada tahun - tahun belakangan ini.

Sewaktu aku kecil dulu, mulai dari aku ikut mengaji di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) sewaktu bocah dulu, membaca Iqro, hingga pengajian menjadi semakin serius membahas permasalahan bangsa di kampus, seingat ku emac memang tidak intens mengaji. Tidak intens dalam artian aku tidak melihat beliau meluangkan waktu begitu banyak dalam seminggu seperti tahun - tahun ini. Tahun - tahun dimana kebetulan aku lebih sering bisa menemani beliau di rumah.

Yang aku bisa ingat adalah pada masa - masa itu, Emac demikian keras kepada ku untuk berangkat mengaji. Mulai dari ke TPA Al-Hasanah sewaktu aku bocah dulu menghabiskan Iqro. Hingga ke pak haji Zein tetangga sebelah rumah hingga SMP hingga aku bisa khatam Quran sebanyak 3 kali.

Ketika itu, jika aku tidak ingin berangkat, apalagi sampai membolos, Emac marah sekali. Teriakannya memarahi aku untuk mengaji akhirnya membuat ku berangkat dengan enggan. Meninggalkan tontonan Satria Baja Hitam atau game PS Harvest Moon yang sedang ku mainkan.

Emac dan pengajiannya tidak bisa dipisahkan.

Jika tidak karena sedang sakit, atau saat bepergian, Emac pasti berangkat mengaji. Bahkan saat hujan deras. Berbekal payung kecil kotak - kotak biru - merah yang tersandar di rak sepatu, Emac menembus hujan. Dan sebelum kamu menyebut ku anak durhaka, boleh lah aku bilang kepada mu bahwa walau sekian kali aku membujuk beliau untuk diantar saja, beliau akan selalu menolak. Emac dan keinginannya tidak akan bisa aku batalkan.

Seperti ku bilang di awal tulisan ini, pengajian buat Emac lebih dari sekedar nilai ibadahnya sebagai seorang muslimah. Kehidupan Emac, sebagai ibu, wanita, pedagang, tokoh masyarakat, berpusat pada pengajian.

Begini cerita beliau.

Berbarengan dengan Emac berangkat ngaji, Emac membawa beraneka rupa barang. Jika sedang mengaji di masjid dekat rumah, Emac sering membawa ceret minum berisi teh manis hangat. Ku duga ketika itu Emac sedang dapat giliran membawa konsumsi. Bersama dengan ceret teh, emac juga kadang membawa makanan - makanan ringan seperti keripik dan kue - kue.

Selain itu, Emac juga membawa berbagai rupa barang untuk dijual. Mulai dari berbagai keperluan mandi, sabun, shampoo, pasta gigi, hingga berbagai perlengkapan rumah seperti tikar lipat, sajadah, dompet, hijab, gamis, semua Emac bawa untuk ditawarkan kepada jamaah pengajian.

" Yah, buat silaturahmi. Biar bisa ngobrol - ngobrol "

kata Emac ketika ku tanya kenapa bawa banyak sekali barang dagangan ke pengajian.

Pun perlu ku sampaikan kepada mu bahwa Emac, di usianya sekarang, sebenarnya sudah mencapai kebebasan finansial dan waktu. Dua hal yang laris manis sekali jadi dagangan para motivator itu sudah dicapai Emac. Sehingga, berdagang dan bekerja, menurut ku Emac lakukan sebagai sebuah sarana aktualisasi diri di usia dini saja.

Aih. Canggih sekali Emac ku!

Walau sekedar sebagai sarana silaturahmi, jarang sekali ku dapati barang dagangan yang Emac bawa itu bersisa. Entah bagaimana persuasi yang Emac lakukan sebagai penjual. Tapi, salah satu trik yang aku sering lihat dari Emac adalah membolehkan para pembeli mengangsur belanjanya. Walau itu sekedar sebuah dompet senilah Rp50.000, Emac membolehkannya dibayar 10 x Rp5.000, tanpa bunga tanpa riba.

" Alhamdulillah. Buat beli Somay " 

Kata Emac ketika ku goda setiap dagangannya laris manis. Iya, selepas mengaji Emac rutin membawa serta Somay atau Batagor atau Roti Bakar bahkan sekedar telur gulung sebagai buah tangan yang entah buat siapa. Karena, seingat ku, entah diri ku, adik atau bapak tidak pernah memesan Emac agar membawakan sesuatu.

Emac sepulang mengaji rutin berkunjung ke teman - temannya yang juga punya perniagaan. Sepertinya dalam proses silaturahmi tersebut, diakhir obrolan Emac membeli barang - barang dagangan tersebut. Jadilah setiap sore jika aku ada di rumah aku harus menghabiskan Somay, Batagor, Bakpao, Roti Bakar dan sebagainya.

Suatu kali Emac pulang telat. Hampir jam 9 malam belum pulang. Bapak sudah khawatir. Aku pun kemudian mencari Emac ke seantero kampung. Bahkan hingga ke daerah besar Buncit Raya. Aku tidak menemukan Emac dimanapun. Bahkan ku tanya berbagai tukang yang bisa ku temui di trotoar.

Sekitar jam 10 malam bapak menelpon. Emac sudah pulang dari pengajian. Ternyata Emac telat karena sepulang mengaji membantu persiapan hajatan seorang jamaah. Di situ Emac memasak dan mencuci piring - piring yang akan digunakan. Sejujurnya ketika itu entah aku harus senang, sedih, kasihan atau marah Emac sampai sebegitunya memperlakukan dirinya untuk orang lain.

Tapi, aku urungkan buat marah, bahkan berkomentar kenapa Emac pulang malam pun tidak. Aku senang Emac sudah sampai rumah dengan selamat. Pun begitu melihat bapak tampak lega sekali kesayangannya sampai di rumah begitu ceria berceloteh tadi memasak dan mencuci piring di hajatan.

Dengan Emac bahagia, itu sudah cukup buat kami. Sungguh.

" Emac, sebelum saya pergi , ayo saya anter ke pengajian "

tawarku siang tadi sebelum berangkat bekerja.

" Engga usah, Emac sendiri saja, nanti kamu terlambat "

tolak Emac halus sambil membetulkan hijab yang dia kenakan.

Aku cium tangan Emac, bahkan ku peluk dirinya. Aku sedih. Sedih sekali.

Bahkan sekali saja, bertahun - tahun ini, Emac tidak pernah bilang iya untuk aku antar.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda