NOAH : Belajar Dari Fiksi Banjir Besar

No Comments
review film noah
Banjir Besar

Untungnya cuma fiksi ?

Ternyata, pada saat Adam dan Eve diusir dari surga, tidak hanya iblis yang ikut pergi ke dunia. Sebagian kelompok malaikat memutuskan membelot. Mereka menyusul Adam dan Eve. Dengan kebijaksanaan dan ilmunya, para malaikat tersebut membantu keduanya mulai membangun dunia. Sedangkan, iblis tentu saja dalam misinya menjerumuskan manusia hingga akhir zaman.

Adam dan Eve pun berketurunan. Keturunan – keturunan Adam dan Eve pun kemudian mengusai sains dan teknologi. Lalu mereka membangun kota – kota industri yang maju.

Di antara kisah keturunan mereka, Cain membunuh Seth (berdasarkan nama bible) tidak hanya karena iri Seth mendapatkan istri (saudarinya) yang lebih cantik (Abel) sebagai istri. Namun, juga Karena ketidaksesuaian prinsip hidup diantara keduanya.

Cain lebih menyukai konsep penguasaan terhadap alam dan sumber dayanya. Sedangkan Seth ingin sedari awal manusia sudah bijak dan selaras dengan alamnya. Dari garis Seth ini lah lahir Noah dan keturunannya.

Walau cuma fiksi, kamu bisa belajar banyak hal dari film Noah. Sayangnya, kefiksiannya membuat film ini dilarang beredar di banyak negara.

Diantara hal – hal tersebut, ada 7 hal penting yang layak kamu tahu sekarang.

1. Dunia (tentu saja…) hancur karena keserakahan para manusia


Betapa rakusnya manusia pada sumber daya yang digunakan untuk mendukung gaya hidup mereka, membawa petaka pada manusia dan peradabannya. Tidak hanya energi, namun juga sumber makanan dan tanah mereka rusak dan habiskan.

Cain dan keturunannya tentu menjadi biang kerok. Kota – kota dan teknologinya merusak bumi sedemikian rupa. Seth dan keturunannya memilih mengalah dan menyingkir. Dan coba tebak jalan hidup apa yang mereka pilih.

Ternyata..


2. Menjadi vegan


Bahkan di saat – saat terakhir mereka, manusia tidak dapat menghentikan nafsu mereka. Kerakusan memakan daging membuat di masa – masa akhir kehidupan manusia tidak terdapat lagi hewan untuk diburu maupun dikembangbiakan. Laju pertumbuhan livestock ternyata tidak mampu mengimbangi kebutuhan manusia.

Luar biasa kan ? Bahkan hewan yang diternak pun tidak mampu memenuhi konsumsi daging manusia. Jika kamu sudah pernah menonton film documenter Cowspiracy atau membaca literatur- literatur dengan tema sejenis, peternakan memang bukanlah jalan hidup berkelanjutan untuk manusia.

Pada titik tertentu kita harus berhenti. Tidak hanya karena untuk memenuhi kebutuhan kita perlu membuka lahan peternakan lebih luas untuk mengembangbiakan hewan, tapi juga karena besarnya konsumsi pangan dan air untuk membuat hewan – hewan ini segemuk yang kita inginkan.

Mengerikan ketika itu, bahkan seorang manusia mau menukarkan istri maupun anak-anaknya untuk sepotong daging. Istri dan anak – anak nya ditukar sebagai apa ? Yah sebagai….
Berbeda dengan keturunan Cain yang rakus, keturunan Seth (Noah dan keluarganya), memilih menjadi vegan. Hidup secukupnya penuh kebajikan.

Iya kan ? Masa depan yang seperti ini nampaknya tidak terlalu jauh dari kita ya ?



3. Tuhan yang hilang kesabaran.


Walaupun bukan hal yang baru diketahui (karena di berbagai kitab suci agama Samawi juga diceritakan), Pada bagian ini saya terkejut juga.

Lha iya ya ? Bahkan baru sampai Noah sebagai “rasul”, namun manusia sudah sedemikian rusaknya sehingga Tuhan merasa kehidupan perlu di-reset ulang saja ?

Padahal, pengetahuan tentang kebijaksanaan surgawi mungkin masih begitu dekat pada masa itu. Bisa saja di sepanjang masa kecilnya Noah diceritakan sebagai pengantar tidur oleh sang ayah. Akhirat masih terasa begitu dekat dan Tuhan masih bisa dirupakan tapi tetap saja manusia – manusia berbuat kerusakan.

Manusia sudah melampaui batas. Tuhan bertindak. Dibanjirinya bumi dengan air dari langit dan yang terpancur dari dalam tanah.

4. Bagaimana bahtera dibuat


Mungkin kamu pun penasaran, bagaimana pada masa itu bahtera besar yang menyelamatkan hewan – hewan tersisa dapat dibangun.

Pada cerita ini, dunia sudah sedemikian rusak. Pohon – pohon jarang ditemui. Lalu, bagaimana bahtera mungkin ada ?

Noah bepergian untuk mencari Methuselah, kakeknya yang mengasingkan diri. Di sana dia bercerita bagaimana firman Tuhannya turun dan ia tafsirkan sebagai petunjuk akan datangnya banjir besar. Ia perlu membuat bahtera.

Dari Methuselah, Noah mendapatkan sekeping biji, yang ternyata ketika ditanam ke tanah menumbuhkan kembali pepohonan.

Memang, berdasarkan versi film ini, manusia pernah ada pada masa – masa yang berkemajuan, bisa jadi membuat suatu perahu besar pun tidak menjadi susah. Lalu, pepohonan pun berhasil ditumbuhkan lagi. Tapi, bagaimana Noah dan segelintir keturunannya mampu mengerjakan bahtera tepat waktu ?

Ternyata para malaikat pembelot membantu mereka. Tidak hanya memberikan pengetahuan, mereka juga menyumbang tenaga dalam pembuatannya. Bahkan, para malaikat ini menjaga bahtera tersebut ketika keturunan  Cain menyerbu untuk ikut masuk ke dalam bahtera.

Berdasarkan firman, Noah merasa hanya dia dan keturunannya lah kelompok manusia yang layak terselamatkan Tuhan. Untuk membangun dunia baru setelah banjir surut. Cain dan para keturunannya hanya akan merusak dunia. Biarlah mereka dibanjiri dan dibuat mati tenggelam.

Dan dunia baru pasca Banjir Besar hanya akan ada Noah, sang istri, dan kelima anaknya.

Untungnya ini cuma fiksi.

Berdasarkan firman lagi, Noah merasa kewajiban mereka hanyalah mengantarkan hewan – hewan ke dunia baru. Kemudian mereka harus mati satu per satu sebagai manusia terakhir.


5.  Hewan – hewan yang akur di dalam bahtera


Hewan – hewan pun berdatangan berpasang-pasangan. Yang berkaki. Yang melata. Yang terbang di udara.

Tentu selain seberapa besar ukuran bahtera yang dibuah Noah, kamu juga penasaran bagaimana bisa hewan – hewan ini hidup akur didalamnya berbulan – bulan ? ‘

Ternyata istri Noah, Naameh, mengembangkan ramuan herbal yang menidurkan para hewan tersebut !

Ah. Tentu saja ! Saatnya kita kembali kea lam ? Vegan !

6. Inces 


Tidak usah heran pada saat itu kakak dapat menikahi adiknya. Untuk memperbanyak lagi jumlah manusia, tentu saja perkawinan diperlukan. Hanya dengan pertemuan sperma dan ovum lah hal itu dimungkinkan. Pria dan wanita.

Inces dapat menghasilkan homozigositas pada alel, yang dapat meningkatkan kemungkinan keturunan lebih dipengaruhi oleh sifat resesif.  Sifat resesif ini umumnya mengarah pada penurunan kemampuan biologis dari makhluk hidup (inbreeding depression). Dalam hal ini kemampuannya untuk sintas dan bereproduksi.

Tentu atas kuasa Tuhan lah bagaimana kejadian pernikahan saudara dekat ini tidak menimbulkan kekacauan genetik. Manusia pun dapat berkembang biak lagi.

7. Kenapa Noah mabuk ?


Saya pernah mendengar suatu kisah di bible

One day he drank some wine he had made, and he became drunk and lay naked inside his tent. Genesis 9 : 21 (New Living Translation)

Walaupun saya tidak merasa perlu mempelajari bible, kejadian orang terpilih seperti Noah mabuk hingga terpapar saat telanjang tentu mengusik.

Lah kok mabuk – mabukan ?

Setelah banjir besar, Noah merasa gagal, karena salah satu anaknya menghasilkan keturunan kembar bayi laki – laki dan perempuan. Awalnya Noah berpikir untuk membunuh saja meerka berdua. Tapi dia tidak tega, biar bagaimanapun keduanya kan cucunya juga ?

drunken noah
Penggambaran Noah Saat Mabuk

Namun, dengan begitu, manusia menjadi mungkin diselamatkan. Padahal tujuan awalnya adalah memastikan kepunahan manusia dan menyerahkan dunia pada kuasa para hewan.

Dia merasa gagal memenuhi perintah Tuhan. Frustasi menghadapi kegagalan membuat Noah mengasingkan diri dan mencari pelarian. Tanaman anggur di sekitar guanya dia olah menjadi minuman keras. Dia mabuk dan menjadi berlebihan. Noah menjadi manusia pertama pembuat dan penikmat minuman keras ?

Mana sebenarnya yang diinginkan Tuhannya ketika itu ? Kepunahan manusia ? Atau kelahiran kembali ? Bahkan ketika itu, bias penafsiran manusia bisa berujung pada dua hal yang amat bertolak belakang ya ?

Film Noah ditakutkan mengaduk – ngaduk iman dan kepercayaan. Hingga di banyak negara, termasuk Indonesia film ini dilarang beredar.


Bagaimana dengan saya ?


Kisah – kisah masa lalu layaknya tidak usahlah semua kita cari kebenarannya. Pada banyak titik, saya memutuskan berhenti dan memilih percaya saja. Tidak hanya sains dan teknologi kita yang belum mampu menjawab, jangan – jangan ketakwaan kita pun tidak cukup untuk menerimanya.

Jadi, kamu akan nonton film Noah juga ? Saya tunggu tulisan mu juga ya.

Dan, jika tulisan saya ini dirasa memiliki informasi yang bermanfaat, silahkan disebarkan.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda