Jangan Pesimis Dulu. Ini Ada Kok Kisah Sukses Rumah Tanpa DP

No Comments
yang berhasil di program rumah tanpa dp
Bersama pasangan yang berhasil dengan program Rumah Tanpa DP

Belakangan ini lagi ramai perdebatan tentang program Rumah Tanpa DP (DP 0% atau DP 0 Rupiah) salah satu kandindat gubernur Jakarta.

Banyak pihak menyangsikan juga meremehkan bahwa program seperti ini bisa diwujudkan. Apalagi dengan adanya klaim bahwa cukup banyak rumah berharga Rp350 Juta di ibukota.

Pemerintahan calon gubernur tersebut, jika terwujud, akan menalangi DP nya, sekitar Rp50 juta. Setidaknya itu yang dibilang oleh sang calon gubernur di salah satu acara debat. Walaupun kemudian muncul lagi kontroversi selanjutnya akan ketidakelasan program, seperti yang banyak orang utarakan

  • Jadi membayar DP dari pembelian rumah yang di listing di website - website ?
  • Atau pemda DKI nanti akan mengadakan bangunan fisik ?
  • Apakah hunian horizontal atat vertikal ?
  • Kapan akan dimulai ? Sampai berapa lama ?
  • Umur, pekerjaan, rentang gaji berapa yang akan dapat prioritas lebih dahulu ?

Dan masih banyak lagi lain - lainnya.

Pertanyaan menalangi DP tersebut, dinyatakan sang calon gubernur dalam acara debat di Mata Najwa.



Saya pribadi tidak akan membuka perdebatan untuk konsep Rumah Tanpa DP (DP 0% atau DP 0 Rupiah) sang kandidat di blog saya ini. Namun, saya ingin berbagi cerita tentang salah satu contoh keberhasilan kepemilikan Rumah Tanpa DP.

Cerita ini saya dapatkan dari orangtua saya.

Beberapa kali, orangtua kami membicarakan pengalaman masa muda mereka ke saya. Sambil haru atau sambil tertawa. Misal, sewaktu awal-awal datang ke Jakarta. Ketika itu, mereka harus tinggal berpindah - pindah. Dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya.

Sering karena rumah yang kebanjiran, mereka harus mengalami hal-hal yang menjatuhkan. Tidak hanya harta - benda yang rusak, bahkan nyawa. Dalam suatu kejadian banjir misalnya, ibu kami menggendong kakak sulung saya yang waktu itu masih bayi, di posisi atas kepala karena banjir yang sedemikian tinggi. Mereka mengungsi ke rumah tetangga yang posisinya lebih tinggi.

Di kejadian itu, Bapak belum pulang dagang sehingga tidak tahu kabar. Biasanya kalau pulang lebih lama, dagangan ketika itu memang sedang sepi.

Sesampainya di rumah tentu Bapak kaget, harta bendanya banyak hanyut terbawa air atau rusak tidak bisa dipakai lagi. Bahan mentah kacang kedelainya misal, yang tidak mungkin beliau gunakan untuk membuat tempe esok hari. Sekaligus juga beliau bersyukur karena anak dan istrinya selamat.

Selepas kejadian itu, mereka berpindah lalu berpindah lagi sekian kali. Namun, selama perjalanan seperti itu, mereka menyimpan tekad memiliki rumah sendiri.

Apa yang dilakukan sepasang kekasih tidak berpendidikan tinggi untuk memiliki rumah sendiri?

Tentu saja pilihan pekerjaan tidak banyak disediakan untuk orang seperti mereka. Akhirnya, mereka membuat pekerjaan sendiri disini dan disana. Hingga bisa membawa banyak sekali masyarakat Pekalongan, Pemalang, Batang, hingga Gunung Kidul datang memenuhi Jakarta untuk bekerja bersama. Kawasan Mampang pun menjadi kawasan perdagangan.

Bisnis mereka awalnya tempe, sesuai keahlian tanpa banyak pendidikan mereka. Lalu, bumbu - bumbu dapur. Lalu, sayur mayur. Hingga bisa memasok ke jaringan Supermarket besar ketika itu. Seingat saya, mereka pun pernah juga ikut bisnis jaringan. MLM.

Hasil keuntungan bisnis, mereka putar jadi bisnis lagi, selebihnya ditabung. Untuk memenuhi mimpi mereka antara lain memiliki rumah, men-sarjana-kan semua anak, juga pergi haji. Sudut pandang mereka adalah mewariskan sebaik-baiknya pendidikan untuk anak-anak mereka yang banyak itu.

Alhamdulillah. Rumah pun terbeli. Tanpa DP. Tanpa riba. Tanpa bergantung pergantian gubernur. Awalnya 1 lalu 2 dan seterusnya. Kemudian mereka berinvestasi. Tanah dan properti. Sawah, kontrakan, juga ruko. Mereka memang tidak suka berhutang. Semua sebisa mungkin dibeli tunai. 

Mereka nampaknya memang tidak pandai mengelola hutang. Bisnis yang mereka mulai dengan hutang, biasanya tidak berumur panjang.

Jatuh bangun tentu mereka pernah alami. Misal, sewaktu berusaha masuk bisnis perikanan. Atau sewaktu ditipu oleh berbagai macam model kerabat. Namun, saya rasa itu memang bagian dari proses belajar yang mereka lalui hari ke hari. Belajar mengenal kondisi juga manusia di sekitarnya.

Saya menulis ini di rumah mereka di Mampang Prapatan. Rumah yang mereka tempati ini, berusia sekitar 30 tahun. Di ruang tamunya, ketika sepi di malam hari, saya sering membayangkan adegan sepasang sejoli bergadang hingga malam. Mengemasi tempe, sayur-mayur, dan bumbu - bumbu dapur. Sambil berkelakar dan saling menyemangati dengan impian Rumah Tanpa DP mereka.


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda