Kekuatan Para Pendiam

No Comments
Agus Pilkada DKI Jakarta
Agus-Sylvi

Adalah aneh bahwa di kampung kami sini hanya ada spanduk dan rupa-rupa dukungan kepada Mas Anies. Karena secara turun temurun, disini adalah basis massa PPP, PKB, dan PDIP. Warga Muhammadiyah bisa jadi memilih PAN. Sisa pemilih dibagi dengan partai - partai lain.

Karena itu adalah normal kalau saya berharap juga ada spanduk lain mendukung kandidat Ahok apalagi Agus Yudhoyono. Kandidat yang menjadi perwakilan dari pendukung PPP-PKB-PAN, Islam, Mas-Mpok, Jawa-Betawi.

Saya jadi ingat kejadian dua pemilu sebelumnya.

Susah sekali menemukan spanduk atau dukungan visual apapun terkait Jokowi. Lha ternyata dalam dua pemilu itu, Jokowi malah menang disini. Sebagai Gubernur Jakarta, lalu Presiden Indonesia.

Padahal dalam gambar - gambar, dalam pertemuan - pertemuan, dalam pengajian -pengajian, sudah disampaikan bahwa ada alternatif lebih baik dari Jokowi.

Bahkan Raja Dangdut bang Haji Rhoma idola ku, pembina Dewan Kemakmuran Masjid sini, sudah turun gunung berbicara depan kami para jamaahnya!

Tempo hari bapak berdiskusi dengan saya. Adalah sulit untuk pemilih nomor 1 apalagi nomor 2 untuk menyuarakan diri di komunitas. Namun, ada rahasia dibalik para pendiam yang sudah dua kali menang ini.

Dalam diskusi - diskusi, mereka ternyata menyimpan ketidaksenangan akan pendekatan ofensif dan dirasa tidak bersahabat untuk mendukung pasangan calon yang mereka dukung.

Lalu, para pendiam ini memilih diam atau malah setuju. Hadir di pengumpulan massa. Takzim di himbauan-himbauan.

Namun, sejatinya, pilihan mereka tidak pernah berubah sejauh ini.

Tidak perlu spanduk. Tidak perlu panji-panji. Mereka hanya perlu waktu 10 detik di bilik suara untuk bersaksi.

Dan kenapa para pemilik spanduk dukungan harus kaget saat mereka tidak menang lagi?

Bermasyarakat adalah praktek nyata toleransi dan kasih sayang. Setelah kandidat terpilih, bekerja, berdagang, dan mengaji kita sama - sama lagi.

Bersatu.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda