Competitive Advantage : Cerita dari tukang ojek depan stasiun Pekalongan

No Comments
Gambar stasiun kota besar pekalongan
Stasiun Kota Pekalongan

Saat pulang ke Pekalongan, jika sendiri, saya lebih suka naik kereta. Lalu, memilih perjalanan sore agar sampai disana menjelang tengah malam agar tidak macet.

Dari stasiun Pekalongan, untuk menuju rumah keluarga kami memang cukup jauh. Dan di waktu tengah malam, hanya ada dua pilihan moda transportasi, ojek dan becak.

Tidak tega saya meminta tukang becak mengantarkan saya hingga ke rumah. Lebih dari 10 km jaraknya, tanpa dihitung dengan jarak tukang becak itu untuk kembali lagi.

Mungkin saja dia mau, untuk mendapatkan ongkos yang besar. Tapi, tetap saya tidak tega

Maka, pilihan jatuh kepada tukang ojek.

Di Pekalongan, baik Grab, UBER maupun Gojek memang belum merambah. Jadi, memesan ojek disini pun tarifnya jadi mutasyabihat, alias meragukan. Tapi, biarlah, tidak setiap hari pula saya akan naik ojek di Pekalongan ini.

Di tengah malam seperti ini, yang cukup mengagetkan adalah, cukup banyak tukang ojek maupun tukang becak yang menunggu penumpang di depan stasiun.

“ Kalau tengah malam begini, kereta yang singgah di Pekalongan banyak mas. Terus saingannya sedikit. Gak banyak yang mau ngelembur kayak saya begini “ begitu pengakuan tukang ojek yang mengantarkan saya malam itu.

“Sampai jam berapa mas biasa mangkal depan stasiun ?” tanya saya penasaran

“ Yah, sampai jam 5 pagi, Mas. Habis itu gantian sama angkot. Ditungguin juga percuma. Orang lebih pilih naik angkot juga” jelas tukang ojek

“ Habis itu mas kerjanya apa ?” tanya saya lagi

“ Biasanya kalau semangat, saya langsung ke pasar buat antar – antar barang. Kalau lagi capek banged ya tidur dulu di rumah sebentar “

“ Jadi, memang pekerjaan utamanya ngojek ya ?” Saya bertanya begini karena punya tadinya punya dugaan kalau siang hari beliau ini pembatik atau petani, dua profesi mayoritas di masyarakat Pekalongan.

“ Iya, mas. Begitulah orang kecil. Hehe “

Gara-gara mas tukang ojek ini, saya jadi teringat dengan perantau tukang kelontong yang membuka bisnis ala-ala di dekat tempat tinggal saya di Margonda, Depok.

Sang empunya usaha bergantian menjaga toko dalam tiga shift dengan kerabat rantaunya. Upaya itu adalah bagian dari usaha mereka untuk hadir melayani rakyat selama 24 jam.

" Kenapa kang sampai buka 24 jam begini ?

Mas tukang ojek, atau pebisnis toko kelontong itu mungkin tidak menyadari bahwa mereka baru saja menerapkan suatu teknis yang disebut dengan Competitive Advantage. Tanpa berkuliah di Harvard, tanpa pensiun dini dari McKinsey.

Di cerita tukang kelontong, tidak banyak merek besar akan bersedia membuka layanan 24 jam karena terkait dengan besarnya pengeluaran biaya dan mungkin juga peraturan kota yang mengikat.

Sedangkan di cerita tukang ojek, mungkin market size nya lah yang tidak cukup menarik untuk digarap.

Atau bisa jadi, memang masih ada rasa sayang dari pemain besar untuk para rakyat kecil yang harus kita kasihi macam mereka.

Sedangkan saya, sewaktu mempresentasikan competitive advantage kami di depan para calon investor, mereka bilang tidak tertarik.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda