Sedikit Cerita Bersama Teman Beda Iman

No Comments
The Sermon on the Mount
The Sermon on the Mount

Seperti kamu, saya juga punya teman yang mengimani Yesus sebagai Tuhan.

Dan ini adalah sedikit kisah dari kami berdua.

Rumahnya ada disebelah masjid, tapi tidak menempel. Hanya dipisahkan sebuah gang kecil tempat seorang penjual gado-gado dikerumuni pembeli.

Saban waktu, dari pagi hingga petang, kalau dia sedang dirumah, dia dan keluarganya tanpa diwajibkan akan mendengar adzan serta bacaan Al-Quran.

Tapi, toh, sampai detik ini dia sekeluarga tidak menjadi Islam.

Beberapa kali, saya pernah kerumahnya. Rumah sederhana di samping masjid kampung yang padat itu.

Bukan karena dilarang, namun saya tentu saja memilih untuk solat di masjid tersebut. Karena 27 lebih baik derajatnya. Juga karena lebih pasti.

Saya tidur di kamar teman saya itu di lantai 2 rumah. Menghadap ke gambar Yesus yang tersenyum. Di salah satu dinding sisi kamar ada salib.

Kami tidur berhimpitan. Mesra sekali. Habis, dia keberatan sih untuk tidur dibawah.

Sewaktu azan Shubuh berkumandang, tentu saja saya dapat mendengarnya dengan jelas. Lokasi speaker masjid tentu amat dekat dari lantai 2 ini.

Saya bangun. Teman saya tidak. Tapi, sebelum tidur tadi dia berpesan kalau ingin solat Subuh, langsung saja turun dan membuka pintu. Bapaknya sudah memastikan kalau pintu tidak dikunci.

Pagi harinya, kami berniat sarapan. Tapi, bapak dan ibunya mengingatkan untuk makan diluar saja, seperti semalam.

Saya paham maksud beliau. Saya mengerti. Mereka berusaha menghormati.

Kami memutuskan membeli gado-gado di jalan sempit sebelah masjid. Sudah ramai sekali dengan para pembeli.

Penjualnya adalah seorang ibu Jawa, saya rasa. Pembelinya campur. Ada Jawa, Melayu, Tionghoa. Macam-macam. Semuanya makan gado-gado pagi itu.

Lontongnya sama. Sayurannya juga.

Siang nanti, kami akan pergi ke Mangga Dua. Kata teman saya itu, biar dia nanti yang berbicara kepada para penjual. Saya harus membeli laptop, yang sebelumnya dipinjam seorang pencuri dan belum dikembalikan.

Penjualnya Tionghoa. Teman saya pun begitu. Saya jadi dapat harga diskon. Juga bonus kipas kecil.
Malam sebelumnya, dia mengajari saya seluk-beluk kehidupan malam di kawasan Gadjah Mada. Kami berkeliling. Disini, bahkan kupu-kupu pun tidak perlu mengenal suku.

Tapi kami ga ngapa-ngapain. Menawar harga pun tidak. Hanya melihat-lihat sedikit. Kupu-kupunya hinggap pun sepertinya enggan.

Teman saya ini, sang pengiman Yesus sebagai Tuhan suatu waktu pernah bertanya :

"Bagaimana kalau lo yang salah, Bas?"

Saya cuma menjawab.

"Iya, bagaimana kalau lo yang salah, Vin ?"

Saya meyakini iman saya tentu. Dia pun begitu.

Malam itu tidak ada perdebatan iman. Yasudah. Begitu saja. Malam dilanjutkan menonton bola.

Kami tetap bisa berkuliah di kampus yang sama. Membaca buku yang sama. Juga sesekali tidur berhimpitan.

Habis dia gitu sih, gak mau mengalah tidur dibawah.

Ohiya. Kami punya janji, kalau dia menikah, saya boleh tidak makan babi. Prasmanannya akan dipisah, biar saya makan bersama kerabat Muslim yang lain saja di pestanya.

Dan diakhir minggu ini, saya dan dia menjadi panitia pernikahan seorang teman. Berdua, saya akan memakai baju Beskap.

Berusaha menjadi seorang Indonesia. Tanpa perlu berdebat soal iman.

Abdul Basir
WNI bersuku Jawa beragama Islam.

Tentang foto :
The Sermon on the Mount karya Carl Bloch, tahun 1890.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda