Berbisnis Dari Silaturahmi Dari Berbisnis

No Comments
foto abas dengan orangtuanya
Maaf fotonya blur.



Saya mau berbagi cerita pribadi lagi. Ini rahasia ya.
Kamu baca sampai selesai sebelum berkomentar dan membagikan cerita ini.

Alkisah.

Setiap pagi hingga sore hari, sekumpulan ibu - ibu di depan rumah kami memiliki aktivitas rutin. Mereka membuat beraneka-rupa produk tempe. Ibu saya adalah penggerak ibu - ibu lainnya untuk tergabung dalam kelompok bisnis ala ala itu.

Ibu saya ini sudah relatif tua. Tapi, relatif bisa dibilang sudah mencapai kebebasan finansial. Bisnis orangtua saya di bidang industri tempe rumahan, batik, dan properti alias kontrakan dan ruko, alhamdulillah sudah cukup untuk membiayai masa tua mereka. Walau masih membiayai kuliah adik saya.

Lha kok ibu mu masih repot - repot bekerja ?

Nah itu, saya pernah juga bertanya yang sedemikian kepada beliau. Jawaban beliau selalu sama.

Ya selama ma'e masih kuat mendingan kerja. Daripada berdiam diri doang.

Ibu saya memang tidak suka berdiam diri. Berbagai aktivitas masih dilakukannya. Tidak hanya sekedar memasak untuk keluarga kami, tapi juga banyak aktivitas di masyarakat. Selain bekerja membuat tempe di depan rumah, ibu saya juga aktif di pengajian, komunitas PKK, hingga arisan.

Bekerja membuat tempe pun hanya salah satu "aktivitas ekonomi" yang beliau lakukan. Beliau juga masih aktif berjualan batik, berbagai oleh - oleh, hingga belakangan ini permen jahe. Ya, apapun produk yang dia lihat bisa diperjualbelikan kembali.

Bukan Kartu Nama. Bukan Proposal Usaha

Ibu saya memasarkan produk - produk tersebut lewat berbagai jarigannya. Beliau tidak sekedar berbisnis untuk mendapatkan sekedar beberapa ribu uang. Beliau menjalin silaturahmi dengan bisnisnya.

Dalam bisnisnya, beliau berbagi kabar, berbagi manfaat. Berbagi gosip - gosip artis. Beliau tidak sekedar bertukar nomor telepon. Seingat saya, wong ibu saya itu baru belajar mengoperasikan HP tak sampai 5 tahun lalu kok.

Beliau tidak basa - basi tanya - tanya hal kosong di konferensi atau pameran. Tidak ada mau dibalik batu. Tukar kartu nama eh tak lama langsung mengirimi proposal usaha.

Makin ibu menawarkan produk-produknya, makin banyak jaringan dalam list ibu. Listnya ya ga canggih seperti audience di Fanspage, atau subsriber newsletter. Sekedar nama dan nomor HP di gadget klasik nya.

Dan ibu pun merawat list nya ini dengan baik. Bertegur sapa di jalan. Bertanya kabar di telepon (gosip) hingga saling berkunjung di kondangan masing - masing. Oh iya, sudah cukup lama juga ibu saya ini tidak mengadakan kondangan sendiri...

Ibu tentu tidak belajar dari John C. Maxwell atau Dale Carnegie. Beliau tidak tahu lah tentang " How to Win Friends and Influence People " . Apalagi kitab suci para setarapwan dan setarapwati yang berjudul The Lean Startup.

Ajaib.

Tanpa dibekali literatur pun, ibu saya memenangkan teman dan mempengaruhi orang orang. Beliau juga menerapkan Build, Measure, Learn dengan baik. Beliau tahu kalau produk X baik dijual ke segmen ibu - ibu Y. Agar lebih disukai, produk A dilaunch dengan metode B. Dan seterusnya.

Beliau menguasai ini karena terjun ke lapangan. Get off of the building and meet them. Melakukan customer validation nya secara real. Real time. Real life. Real experience.

Berapa sih nilai kekayaan ibu (dan bapak) ?


Saya ga tau pasti sih. Tapi, yang jelas tentu tidak mungkinlah sampai seperseribu nya CEO Partai Perindo Group. Apalagi beliau tidak punya mars yang disetel harian untuk menampilkan dirinya ke khalayak. Medium pemasaran beliau hanyalah sebatas masjid, kondangan, dan pertemuan tak terduga di dunia pergosipan.

Tapi, saya rasa kedua orangtua saya ini cukup sejahtera. Alhamdulillah. Barakallah.

Keenam anaknya berkuliah dan menjadi beraneka sarjana. Ada sarjana ekonomi, dokter gigi, sarjana teknik, sarjana pendidikan, juga sarjana sains merangkap CEO startup perjuangan. Anak bungsu bahkan sedang berkuliah di kampus swasta yang jauh lebih mahal dari kuliah saya bayarnya. 

Adik saya menuntut ilmu pada sebuah kampus swasta di Depok yang terletak di Margonda dan Kelapa Dua. Dengan jurusan Teknik Informatika sebagai salah satu unggulannya.


Mereka adalah Sumber "Kebodohan" Saya

Kalau kamu telah membaca artikel saya sebelum ini, yang berbicara tentang kebodohan dan kecerobohan saya dalam beberapa hal. Mungkin kamu sudah bisa menyimpulkan darimana sumber semua hal milik saya itu berasal.

Alkisah.

Ibu dan bapak kami memang tidak seberuntung kami untuk berkuliah. Lulus SMA saja sudah syukur. Itu pun sepertinya dari program paket C. Ibu saya malah sepertinya tidak sampai SMP.

Hidup mereka berdua berat. Setelah dibodohi bapak dengan rayuan sukses di ibukota, mereka akhirnya menikah dan merantau di usia muda.

Di Jakarta ya jelas melarat hidup mereka waktu itu. Namanya juga ibukota. Lebih jahat dari ibu tiri katanya. Kalau dengar cerita mereka yo sedih mas, mbak. Kapan - kapan saya bisa cerita lebih banyak

Namun, perlahan - lahan. Dari usaha - ke usaha. Dari penggusuran ke penggusuran, ibu dan bapak mulai menata hidup keluarga bahagia mereka.


Dari anak satu, hingga anak lima lalu kebablasan jadi anak enam. Ibu dan bapak mengarungi selalu bersama mengarungi bahtera mereka. Walau bertengkar. Walau ada benci dan marah. Tapi, terus saja mereka akan kembali sayang dan cinta.

Sekarang, mereka berdua sedang resah karena ingin mengadakan kondangan. Agar bisa saling bersilaturahmi dengan kerabat dan handai taulan. Bertukar kabar dan mungkin tidak bisa tidak terlibat pergosipan.

Suka ga sama ceritanya ? Boleh kalau mau disebarkan agar menjadi kabar baik sesama.


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda