patung tuban
Patung Guan Yu Tuban


Guan Yu (Kwan Sing Tee Koen) adalah salah satu anggota " Five Tiger General " kerajaan Shu pimpinan Liu Bei.

Diantara anggota yang lain adalah Zhao Yun, Zhang Fei, Huang Zhong dan Ma Chao.

Beliau ini memang panglima perang yang luar biasa pada masanya. Dan amat ditakuti. Googling saja lah sana. Saya lagi ga mood. Tema tulisan ini lain.

Banyak orang mengira figur-figur ini adalah sekedar figur fiktif dalam novel " The Three Kingdoms ". Tidak, mereka memang figur sungguhan.

Jenderal Guan Yu, dikenal pemberani, adil dan bijaksana. Mungkin karena sifat-sifat tersebut, sang Jenderal termanifestasikan sebagai Dewa Keadilan? Entah lah saya tidak berhak.

Kris Tan, Ketua Presidium Generasi Muda Khonghucu Indonesia (gemaku.org) berpendapat, pembangunan patung Guan Yu yang belakangan jadi isu panas merupakan sikap yang tidak peka terhadap keutuhan berbangsa dan bernegara.

"Tuduhan yang beredar bahwa itu diprakarsai oleh umat Khonghucu adalah sebuah kekeliruan dan fitnah besar bagi penganut Khonghucu,"

Ia menegaskan, dalam tradisi ajaran leluhur Tionghoa sama sekali tidak dikenal doktrin membangun ikon patung yang megah dan absurd. Bahkan menuju pada praktik-praktik menduakan Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut dia, dalam tradisi Khonghucu yang menjadi substansi religiusitas dan spiritualitas seseorang bukan pada penyembahan terhadap benda-benda mati.

"Melainkan itu harus diejawantahkan dalam mencontoh perilaku dan meneladani sikap yang ditunjukan oleh Kwan Sing Tee Koen yang kebetulan memang figur yang dianggap sebagai tokoh yang menjunjung tinggi Zhi, Ren, dan Yong yaitu Kebijaksanaan, Cinta Kasih, dan Kebenaran,"

Fenomena pengkultusan yang berlebihan, justru telah menodai doktrin utama ajaran leluhur Tionghoa yang menyatakan,

"Tiada tempat lain meminta doa kecuali kepada Tian Tuhan Yang Maha Esa."

"... Dan daripada mencederai kehidupan berbangsa maka sebaiknya segera patung tersebut di bongkar saja," katanya.

Salah satu ajaran lain sang Jenderal antara lain agar seseorang harus mengabdi dan cinta pada Tanah Air yang ditinggali olehnya di mana pun berada.

"Jika patung tersebut justru mencederai prinsip berbangsa maka Shen Ming Kwan Sing Tee Koen pun dipastikan tidak akan pernah sependapat jika dirinya disejajarkan dengan Sang Pencipta, sebab ia adalah tokoh yang justru dijunjung tinggi karena kesetiaannya kepada persahabatan sejati dan patriotisme di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung,"

Patung tersebut terkait PKI?

Wah

Tentu saja ini ala-ala, cocoklogi, mengada-ngada, fiksi, absurd, dan delusional.

Akhir kata, Generasi Muda Khonghucu Indonesia mengimbau kepada seluruh etnis Tionghoa Indonesia untuk selalu meneladani sikap Kwan Sing Tee Koen dengan sikap terpuji dan rasional dengan teladan perilaku, bukan justru menyembah patung dan menduakan sang Pencipta.

Yang jelas, sekarang sudah ditutupi kain, patung sang jenderal.
Continue Reading...
 
Hasyim Asyari Pendiri NU
Hasyim Asyari

Di linimasa teman - teman medsos, beberapa sedang ramai "membalas" argumentasi Ustadz Abdul Somad mengenai beberapa ceramahnya.

Coba kamu tebak.

Tentu saja yang melakukan ini adalah para pengikut pengajian " Ustadz Sunnah " yang nampaknya gerah "keshahihannya" terusik

Hal - hal seperti ini memang gak akan beres dan bikin capek. Entah bagaimana. Mungkin sudah sunnatullah kali. Tidak akan bersatu muslim ini. Selalu saja ada kelompok atau kelompok - kelompok Islam yang tidak cukup dengan dirinya sendiri

Sebelumnya, sudah dibuat ramai juga ketika salah satu " Ustadz Sunnah " secara gamblang menyebutkan ISIS berasal dari Ikhwanul Muslimin

Walau tidak mengikuti IM dan kelompok derivatnya, saya rasa sang ustadz ini sudah berlebihan menyampaikan pendapat. Karena ISIS nyatanya mengkafirkan IM. Sedangkan kita juga patut menghargai apa yang dilakukan IM dengan perjuangannya alih - alih misalnya ada pihak yang menyetujui apa yang dilakukan ISIS. Kelompok pembunuh sesama muslim dan perusak makam nabi ini.

Sekarang, Ustadz Abdul Somad sedang dibahas terkait argumennya soal ziarah kubur, sholawatan, isbal dan jenggot.

Sang ustadz, yang pengurus Bahtsul Masa’il (semacam wadah intelektual) Nahdlatul Ulama hingga tahun 2014 di Riau, tentu saja menyampaikan argumen yang didasari oleh hadits dan pembahasan di berbagai kitab. Tidak seperti saya yang cuma nulis di blog. Apalagi mereka yang cetak ulang komentar dari grup Whatsapp.

Intinya adalah beliau menangkal argumen pembidahan sholawat, tahlilan, ziarah kubur dan berdoa atasnya, dan sholawatan.

Sekaligus membahas perkara isbal dan memanjangkan jenggot. Bahkan sang ustadz menjelaskan kenapa dirinya tidak memanjangkan jenggot.

Tapi, lihat video lengkapnya deh. Beliau itu tidak menyalahkan mereka yang berjenggot. Iya atau tidak ya silahkan.

Tapi, yang paling bikin ramai adalah adanya himbauan sang ustadz untuk kita tidak mengikuti pengajian yang gemar menyalah-nyalahkan, yang menurut saya memang baik-baik saja untuk dijadikan himbauan toh?

Kan wajar kalau sang ustadz mengingatkan jamaahnya? Kan sang ustadz lebih tahu dan punya ilmu?

Saya jadi teringat suatu kejadian di kampus dulu

" Lu datang ke acara shalawatannya anu bas ya kemarin ? Hati - hati, Bas. Shalawatan, tahlilan itu bid'ah "

"Ngga. Habib dan kyainya berdalil panjang lebar. Itu ga bid'ah. Repot sekali kita ini ribut - ribut lagi"

Sampai sekarang saya punya keyakinan yang sederhana - sederhana saja. Di kelompok manapun, para kyai, para ustadz, para habib, para ulama dan guru besar mereka pasti sudah melakukan studi, menelaah kitab - kitab, dan menyusun argumen, ribuan tahun !

Lha kita ini siapa. Baru kenal yang sunah - sunah. Mendadak pangling. Terus bersyahwat - syahwat membantah yang tampak lain.

Pada ustadz Somad pun saya tidak sepenuhnya setuju. Terutama pada argumen beliau untuk hanya mengikuti 3 nama saja pada NU; Buya Yahya, Idrus Ramli dan Luthfi Bashori, yang sebenarnya pada arus utama justru kurang disukai karena antara lain menyebut

- Kyai Hasyim Muzadi tidak mengerti agama
- Habib Luthfi bin Yahya adalah mufsid (perusak)
- Kyai Said Aqil adalah Syiah

Narasi beliau yang terkenal adalah

" (ikutilah mereka yang) dalam ritual mengikuti madzhab Syafi'i, dalam fiqih masih tetap Syafi'i, dalam akidah Asy'ari, dan dalam tasawwuf Junaid Al-Baghdadi dan tidak kena virus sekuler dan liberal "

Sayang, diantara yang disebutkan, juga tidak ada nama Mbah Maimoen Zoebair, Kyai Musthofa Bisri, KH Ma'ruf Amin, KH Marzuki Mustamar, Tuan Guru Turmudzi, dan lain-lain, karena menurut beliau, ikutilah hanya para ulama yang dibenci kafir dan munafik.

Ya moso kriterianya cuma itu...

pendiri Nahdlatul Ulama
Pesan Hasyim Asyari


Tapi, sudahlah. Semua ini adalah kekhilafan manusia. Mungkin beliau tidak cukup waktu menyebutkan saja. Kalau disebutkan semua kan makan waktu. Sedangkan apa yang dilakukan oleh ketiga ulama, bisa jadi hanya sekedar intrik organisasi NU. Nanti juga pada akur lagi. Insya Allah.

Ustadz Somad menyusun argumen dengan keilmuan, begitu pun pihak yang berseberangan. Karena itu, teman - teman " Sunnah " silahkan melanjutkan dirinya dengan memelihara kesantunan.

Mari kita ingat dan jaga saja pesan Rasulullah menjelang hari akhirnya

"ummati. ummati. ummati"

Jangan-jangan, yang bidah adalah cerai - berai nya umat ini.

Wallahu a’lam bish-shawab

Mohon maaf lahir dan batin ya.

Continue Reading...
Previous PostPostingan Lama Beranda