Tempo hari seorang teman mengontak, lama tidak bertemu dia ingin bertukar kabar. Diajaknya aku pergi ke suatu tempat makan yang sedang semarak di kota

" Tapi, gua ga suka pergi ke tempat - tempat begitu nih. Kita gabisa pergi ke tempat yang deket - deket sini aja ? Atau gua ke rumah lu aja gapapa " Aku ini kesehariannya tidak ribet lho.

" Yah si Abas, tempatnya IG-able banged lho " sanggahnya.

Langsung melintas tanda tanya imajinatif besar di pikiran ku ketika itu. Instagramable ? Memang kenapa ?

Hebat nian memang zaman now ini. Tidak cukup hanya menyajikan makanan yang enak dan tata ruang yang baik, suatu tempat juga harus Instagramable. Makin Instangramable dapat cenderung digemari.

Makin Feed-Aesthetic makin asyik. Makin nofilter makin bikin ngiler.

Teringat aku dengan kejadian seorang figur yang memalsukan kegiatan per-Instagram-an nya hanya ( mungkin ) terlihat kekinian, terlihat keren karena bisa jalan - makan ke tempat bagus, terlihat sukses, terlihat berarti.

Zaman sekarang, orang sungguh begitu mudah terasa kurang berarti di lingkungannya.

Merasa dirinya tidak keren.

Pekerjaannya tidak keren.

Pasangannya tidak keren.

Keluarganya tidak keren.

Liburannya tidak keren.

Yang tentu saja bersumber dari rasa gelisah melihat betapa Aesthetic nya feed seorang teman. Dan betapa sang teman mendapat pengakuan besar dari masyarakat apa yang dilakukannya. Bersumber dari tata letak gambar yang diatur sedemikian rupa.

Seringkali teman - teman ku seperti ini rela hidup susah sehari - hari agar akhir minggu bisa hangout ke tempat - tempat bagus dan berbagi cerita pada para pengikut.

Bagaimana dengan kamu ? Apakah kamu pun merasa

Sesuatu yang tidak Instagramable tidak layak dilakukan ?

Kalau aku, akhirnya aku belum menerima ajakan teman ku itu. Mungkin lain waktu jika aku sedang ingin merasa keren dan Instagramable.
Continue Reading...
 



Seingat saya secara resmi Emac hanyalah lulusan SD. Tapi, beliau ini amat menguasai ilmu perencanaan ekonomi dan tentu saja penerapannya dalam keluarga.

Seandainya emac berkesempatan kuliah, emac adalah gabungan antara Sarjana Kesehatan Masyarakat dari jurusan Ilmu Gizi, Sarjana Ekonomi dari jurusan Ilmu Ekonomi dan Akuntansi sekaligus, juga Sarjana Sosial dari jurusan Sosiologi dan Atropologi Budaya.

Jadi, ketika mendapat undangan syukuran sunatan warga sini, yang akan tertulis adalah :

Kepada YTH,
Ibu Hj. Casri, S.K.M, S.E, S.Sos. Yang berbahagia
 Di tempat 

Penerapan valid dan absah ilmu – ilmu tersebut diatas pada masyarakat salah satunya terkait ayam peliharaan Emac.

Saban tahun, emac rutin memelihara ayam. Ayam pun bukan sembarang ayam. Apalagi sekedar anak ayam berbulu warna – warni yang dijual di depan SD 05 Pagi Pela Mampang. Ayam yang emac pelihara adalah ayam kampung berkualitas tinggi dan memiliki bobot, bibit, dan bebet yang jelas.

Emac memulai prosesnya dari bawah sekali. Dari telur ayam – ayam sebelumnya. Ditetaskannya telur – telur itu dan diberinya makan para anak ayam tersebut dengan telaten. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan.

Akhirnya Muharram pun menjadi Ramadhan.

Ramadhan menjadi bulan yang teristimewa untuk ayam – ayam peliharaan emac. Karena secara bergantian pada bulan ini hingga Idul Fitri nanri, dibantu bapak, mereka akan disembelih oleh emac. Yang paling beruntung akan dibawa ke kampung kami di Kecamatan Wiradesa, Desa Waru Kidul, Kabupaten Pekalongan.

Tentu kamu jadi ingin bertanya bagaimana ayam – ayam itu dibawa ?

Ayam – ayam dibawa bersama dengan para manusia saat mudik. Jadi, pada perjalanan pulang kampung itu, selain emac, bapak, mbac, suami mbac dan kedua anak mbac, akan ada 2-3 ayam ikut serta. Bagaimana dengan saya ?

Saya biasanya menyusul pulang sendiri naik kereta atau bis Sinar Jaya. Jika pada mudik tahun itu saya kurang beruntung, maka saya akan ikut serta bersama rombongan mudik ceria tersebut.

Menjaga ayam – ayam emac mudik dengan sehat adalah tugas kami jika masih ingin dianggap bagian keluarga. Jadi, secara bergantian kami mengecek ke belakang, ke tempat ayam – ayam itu diikat bersisian.

“ Ayamnya masih hidup kan dek ? “ tanya mbac

“ Masih kok mbac “ jawab saya atau adik

“ Itu gimana ? Ayamnya masih hidup kan ? “ Jawab bapak sekitar 45 menit kemudian

“ Masih pak. Alhamdulillah “ jawab saya atau adik lagi

Sepanjang perjalanan itu, seingat saya sih malah emac sama sekali tidak pernah bertanya terkait kehidupan atau kematian ayam – ayamnya. Pada waktu itu, emac berperan sebagai Pengawas Ujian.

Pernah suatu kali, pada perjalanan mudik dimana kami terkena macet Panjang, ayam – ayam tersebut mati. Emac tentu saja marah. Tapi, marahnya Emac itu satu hal. Kesedihan dan kekecewaan beliau adalah dua hal lain lagi yang tidak sanggup kami atasi.

Akhirnya, pada saat ini kami menjadi lebih berhati – hati. Setiap saat ada kesempatan rombongan mudik cerita berhenti, kami mengeluarkan ayam – ayam itu untuk diberi minum dan dipaksa makan.

Sebenarnya sih, kondisi ini sekarang semakin pelik saja semenjak kucing peliharaan kami pun harus ikut serta pulang kampung. Tapi, perihal kucing kami ini, biarlah saya masukkan ke cerita khusus lain ya.

Itu cerita dalam perjalanan, pernah ada cerita sebelum keberangkatan yang malah bikin heboh warga se-RT.

Ketika itu, satu hari menjelang keberangkatan, ayam – ayam yang seharusnya sudah siap dibawa pulang tidak bisa kami temukan di kendang.

Tentu saja keberangkatan harus ditunda apalagi mengetahui Emac sudah merengut sedari pagi. Jadilah waktu itu saya, kakak, adik dan bapak mencari ke berbagai tempat terkait keberadaan ayam – ayam Emac.

Mendapatkan anggota keluarga kami sibuk mencari sesuatu, warga pun banyak yang bertanya dan kabar pun menyebar. Akhirnya pada waktu itu, warga RT 6 RW 6 Kelurahan Tegal Parang Kecamatan Mampang Prapatan Jakarta Selatan 12790 ramai – ramai mencari ayam !

Saya waktu itu bingung apakah harus merasa bangga atau sedih.

Berbagai tempat kami cari mulai dari lapangan warga, pekuburan, sekitar masjid, sela – sela rumah warga, hingga ke pabrik – pabrik. Memang kebetulan pada lokasi tempat kami tinggal terdapat beberapa pabril skala UMKM tempe, tahu, oncom hingga bakpau.

Menjelang tengah malam, akhirnya ayam – ayam Emac dapat ditemukan seorang warga. Mereka ditemukan di pabrik tahu pada sebuah drum kosong yang biasa digunakan untuk perebusan. Ayam – ayam tersebut sedang tidur dengan nikmat. Padahal warga sudah sepanjang hari mondar – mandir mencari mereka.

Berita penemuan tersebut pun membuat semua pihak lega. Dibawakannya lah para ayam kepada emac di rumah yang menerimanya dengam gembira. Sekejap saja warga berkumpul di depan rumah dan bertukar celoteh. Kami pun hingga harus menggelar tikar. Dikeluarkan lah pula sajian aneka gorengan dan teh manis. Para warga jadi kumpul – kumpul di depan rumah. Mudik pun terpaksa ditunda hingga esok hari.

Kembali pada perjalanan mudik, sesampainya di rumah keluarga kami, ayam di tempatkan di lokasi khusus di bagian samping rumah. Di tempat itu pula kami menjemur pakaian. Dan di tempat itu pula ayam – ayam Emac melalui hari – hari terakhir mereka.

Saat Idul Fitri ( Lebaran ) keluarga kami menyembelih ayam – ayam Emac secara bergantian. Seringkali jumlah ayam yang dibawa dari ibukota tentu tidak mencukupi. Sehingga sering Emac tetap harus membeli ayam lagi disini. Namun, tentu saja keberadaan ayam – ayam yang dipelihara sedari piyik ini mampu mengurangi budget pembelian ayam potong. Biaya yang dihemat berkisar 100 – 300 ribu. Namun, perencanaan penghematan ini telah direncanakan Emac dengan baik hingga berbulan – bulan sebelumnya.

Emac ku, Ibu Hj. Casri, S.K.M, S.E, S.Sos sungguh layak menjadi Menteri Koordinator Perekonomian.

Ayam – ayam tersebut disembelih langsung oleh bapak. Kadangkala suami mbac ikut membantu. Minimal beliau memegangi mereka agar tidak gelisah ketika meregang nyawa di pisau sembelihan.
Kemudian, pasca perendaman dengan air hangat, kami para lelaki mencabuti bulu – bulu ayam tersebut dengan telaten. Dengan tangan hingga dengan pencabut uban. Ini pun kami lakukan sesuai titah emac.

“ Itu bulu – bulu yang halus dicabuti juga lho ! “

Disiapkan juga pada proses perebusan yang lain lontong – lontong yang kami buat sendiri. Secara telaten kami mengawasi dan bergantian menjaga api tidak mati dan air tidak habis terebus. Kami merebus menggunakan kayu bakar dari kebun belakang rumah untuk beras yang kami dapatkan dari panen musim silam.

Sedangkan para wanita, tua, muda dan balita sibuk didapur, menyiapkan bumbu, memotong – motong, mengulek, dan merumpi.

Terimakasih ayam – ayam emac, sampai bertemu lagi di Lebaran nanti ya.  Pasti menyenangkan sekali.
Continue Reading...
Previous PostPostingan Lama Beranda