Seingat saya secara resmi Emac hanyalah lulusan SD. Tapi, beliau ini amat menguasai ilmu perencanaan ekonomi dan tentu saja penerapannya dalam keluarga.

Seandainya emac berkesempatan kuliah, emac adalah gabungan antara Sarjana Kesehatan Masyarakat dari jurusan Ilmu Gizi, Sarjana Ekonomi dari jurusan Ilmu Ekonomi dan Akuntansi sekaligus, juga Sarjana Sosial dari jurusan Sosiologi dan Atropologi Budaya.

Jadi, ketika mendapat undangan syukuran sunatan warga sini, yang akan tertulis adalah :

Kepada YTH,
Ibu Hj. Casri, S.K.M, S.E, S.Sos. Yang berbahagia
 Di tempat 

Penerapan valid dan absah ilmu – ilmu tersebut diatas pada masyarakat salah satunya terkait ayam peliharaan Emac.

Saban tahun, emac rutin memelihara ayam. Ayam pun bukan sembarang ayam. Apalagi sekedar anak ayam berbulu warna – warni yang dijual di depan SD 05 Pagi Pela Mampang. Ayam yang emac pelihara adalah ayam kampung berkualitas tinggi dan memiliki bobot, bibit, dan bebet yang jelas.

Emac memulai prosesnya dari bawah sekali. Dari telur ayam – ayam sebelumnya. Ditetaskannya telur – telur itu dan diberinya makan para anak ayam tersebut dengan telaten. Hari berganti hari. Bulan berganti bulan.

Akhirnya Muharram pun menjadi Ramadhan.

Ramadhan menjadi bulan yang teristimewa untuk ayam – ayam peliharaan emac. Karena secara bergantian pada bulan ini hingga Idul Fitri nanri, dibantu bapak, mereka akan disembelih oleh emac. Yang paling beruntung akan dibawa ke kampung kami di Kecamatan Wiradesa, Desa Waru Kidul, Kabupaten Pekalongan.

Tentu kamu jadi ingin bertanya bagaimana ayam – ayam itu dibawa ?

Ayam – ayam dibawa bersama dengan para manusia saat mudik. Jadi, pada perjalanan pulang kampung itu, selain emac, bapak, mbac, suami mbac dan kedua anak mbac, akan ada 2-3 ayam ikut serta. Bagaimana dengan saya ?

Saya biasanya menyusul pulang sendiri naik kereta atau bis Sinar Jaya. Jika pada mudik tahun itu saya kurang beruntung, maka saya akan ikut serta bersama rombongan mudik ceria tersebut.

Menjaga ayam – ayam emac mudik dengan sehat adalah tugas kami jika masih ingin dianggap bagian keluarga. Jadi, secara bergantian kami mengecek ke belakang, ke tempat ayam – ayam itu diikat bersisian.

“ Ayamnya masih hidup kan dek ? “ tanya mbac

“ Masih kok mbac “ jawab saya atau adik

“ Itu gimana ? Ayamnya masih hidup kan ? “ Jawab bapak sekitar 45 menit kemudian

“ Masih pak. Alhamdulillah “ jawab saya atau adik lagi

Sepanjang perjalanan itu, seingat saya sih malah emac sama sekali tidak pernah bertanya terkait kehidupan atau kematian ayam – ayamnya. Pada waktu itu, emac berperan sebagai Pengawas Ujian.

Pernah suatu kali, pada perjalanan mudik dimana kami terkena macet Panjang, ayam – ayam tersebut mati. Emac tentu saja marah. Tapi, marahnya Emac itu satu hal. Kesedihan dan kekecewaan beliau adalah dua hal lain lagi yang tidak sanggup kami atasi.

Akhirnya, pada saat ini kami menjadi lebih berhati – hati. Setiap saat ada kesempatan rombongan mudik cerita berhenti, kami mengeluarkan ayam – ayam itu untuk diberi minum dan dipaksa makan.

Sebenarnya sih, kondisi ini sekarang semakin pelik saja semenjak kucing peliharaan kami pun harus ikut serta pulang kampung. Tapi, perihal kucing kami ini, biarlah saya masukkan ke cerita khusus lain ya.

Itu cerita dalam perjalanan, pernah ada cerita sebelum keberangkatan yang malah bikin heboh warga se-RT.

Ketika itu, satu hari menjelang keberangkatan, ayam – ayam yang seharusnya sudah siap dibawa pulang tidak bisa kami temukan di kendang.

Tentu saja keberangkatan harus ditunda apalagi mengetahui Emac sudah merengut sedari pagi. Jadilah waktu itu saya, kakak, adik dan bapak mencari ke berbagai tempat terkait keberadaan ayam – ayam Emac.

Mendapatkan anggota keluarga kami sibuk mencari sesuatu, warga pun banyak yang bertanya dan kabar pun menyebar. Akhirnya pada waktu itu, warga RT 6 RW 6 Kelurahan Tegal Parang Kecamatan Mampang Prapatan Jakarta Selatan 12790 ramai – ramai mencari ayam !

Saya waktu itu bingung apakah harus merasa bangga atau sedih.

Berbagai tempat kami cari mulai dari lapangan warga, pekuburan, sekitar masjid, sela – sela rumah warga, hingga ke pabrik – pabrik. Memang kebetulan pada lokasi tempat kami tinggal terdapat beberapa pabril skala UMKM tempe, tahu, oncom hingga bakpau.

Menjelang tengah malam, akhirnya ayam – ayam Emac dapat ditemukan seorang warga. Mereka ditemukan di pabrik tahu pada sebuah drum kosong yang biasa digunakan untuk perebusan. Ayam – ayam tersebut sedang tidur dengan nikmat. Padahal warga sudah sepanjang hari mondar – mandir mencari mereka.

Berita penemuan tersebut pun membuat semua pihak lega. Dibawakannya lah para ayam kepada emac di rumah yang menerimanya dengam gembira. Sekejap saja warga berkumpul di depan rumah dan bertukar celoteh. Kami pun hingga harus menggelar tikar. Dikeluarkan lah pula sajian aneka gorengan dan teh manis. Para warga jadi kumpul – kumpul di depan rumah. Mudik pun terpaksa ditunda hingga esok hari.

Kembali pada perjalanan mudik, sesampainya di rumah keluarga kami, ayam di tempatkan di lokasi khusus di bagian samping rumah. Di tempat itu pula kami menjemur pakaian. Dan di tempat itu pula ayam – ayam Emac melalui hari – hari terakhir mereka.

Saat Idul Fitri ( Lebaran ) keluarga kami menyembelih ayam – ayam Emac secara bergantian. Seringkali jumlah ayam yang dibawa dari ibukota tentu tidak mencukupi. Sehingga sering Emac tetap harus membeli ayam lagi disini. Namun, tentu saja keberadaan ayam – ayam yang dipelihara sedari piyik ini mampu mengurangi budget pembelian ayam potong. Biaya yang dihemat berkisar 100 – 300 ribu. Namun, perencanaan penghematan ini telah direncanakan Emac dengan baik hingga berbulan – bulan sebelumnya.

Emac ku, Ibu Hj. Casri, S.K.M, S.E, S.Sos sungguh layak menjadi Menteri Koordinator Perekonomian.

Ayam – ayam tersebut disembelih langsung oleh bapak. Kadangkala suami mbac ikut membantu. Minimal beliau memegangi mereka agar tidak gelisah ketika meregang nyawa di pisau sembelihan.
Kemudian, pasca perendaman dengan air hangat, kami para lelaki mencabuti bulu – bulu ayam tersebut dengan telaten. Dengan tangan hingga dengan pencabut uban. Ini pun kami lakukan sesuai titah emac.

“ Itu bulu – bulu yang halus dicabuti juga lho ! “

Disiapkan juga pada proses perebusan yang lain lontong – lontong yang kami buat sendiri. Secara telaten kami mengawasi dan bergantian menjaga api tidak mati dan air tidak habis terebus. Kami merebus menggunakan kayu bakar dari kebun belakang rumah untuk beras yang kami dapatkan dari panen musim silam.

Sedangkan para wanita, tua, muda dan balita sibuk didapur, menyiapkan bumbu, memotong – motong, mengulek, dan merumpi.

Terimakasih ayam – ayam emac, sampai bertemu lagi di Lebaran nanti ya.  Pasti menyenangkan sekali.
Continue Reading...
 
difteri muncul lagi

Dasar egois kamu mas, mbak ! 😢

Outbreak Response Immunization : Imunisasi Responsif Perjangkitan untuk... Difteri !
Sebenarnya Difteri ini bisa ditekan, dengan imunisasi sedari dini. Luar biasa sekali sekarang ada kejadian outbreak untuk sang penyakit infeksi bakteri ini.

Kok bisa? Mungkin sang penular dulunya tidak di imunisasi. Karena kelupaan atau karena anggapan imunisasi adalah konspirasi dari pembodohan Yahudi, imunisasi banyak menggunakan perbahanan babi atau lain lain hal lagi.

Karena keegoisan ini, jadi banyak yang menderita. Individu yang memang tidak bisa diimunisasi karena suatu kondisi kesehatan (immunocompromised people) akan mempunyai kemungkinan yang lebih besar terkena penyakit difteri.

Sekarang difteri. Mungkin lain waktu campak. Lalu upaya kolaborasi se-dunia memberantas penyakit seperti ini jadi sia - sia belaka.

Kok bisa egois memilih jadi " anti vaccine vaccine club " sih?

Di Jakarta sudah ada 22 kasus dilaporkan, di Banten ada 63 kasus dengan 9 kematian, di Jawa Barat ada 123 kasus dengan 13 kematian. Tentu saja angka - angka ini dapat terus bertambah kan?

Gejala Gejala Difteri Secara Umum

Difteri dapat dikenali lewat beberapa gejala :
  • Kelenjar getah bening di leher membengkak
  • Tenggorokan dan amandel tertutup oleh membran berwarna abu-abu
  • Suara serak
  • Tenggorokan terasa sakit
  • Nyeri saat menelan
  • Kesulitan untuk bernapas
  • Demam dan menggigil

Orang dengan difteri wafat dimulai dari akibat toksin Corynebacterium diphtheriae. Ketika ia mengalaminya, tenggorokan akan terasa sakit disertai dengan demam dan tubuhnya akan melemah.
Selain itu, ia juga akan mengalami sesak napas karena saluran di tenggorokannya terblokir oleh selaput tebal berwarna abu-abu (gambar yang paling sering disampaikan untuk menggambarkan difteri).

tenggorokan terblokir akibat difteri
Difteri Menyebabkan Tenggorokan Terblokir


Selain itu, toksin juga dapat menyebabkan kerusakan saraf dan jantung. Toksin yang menyebar lewat pembuluh darah dapat menyebar ke jantung. Otot jantung dapat rusak karena toksin ini, menimbulkan radang pada otot jantung (miokarditis). Peradangan ini juga dapat merusak organ jantung secara keseluruhan dan menyebabkan penyakit gagal jantung kongestif yang dapat menyebabkan kematian.

Memang Bagaimana Difteri Disebarkan ?

Ada 3 kejadian umum penyebarannya

• Kontak luka

Jika tidak sengaja menyentuh luka orang yang menderita penyakit difteri, sudah pasti kamu tertular penyakit itu.

• Kontak barang

Barang-barang yang telah tersentuh oleh penderita penyakit difteria cenderung mengandung bakteri crynebacterium diphtheriae. Misalnya, gelas, sendok, dan handuk, atau barang lain yang telah digunakan oleh penderita penyakit difteria.

• Kontak udara

Ketika orang yang menderita penyakit difteri batuk atau bersin, mereka akan melepaskan udara yang mengandung bakteri crynebacterium diphtheriae. Orang yang berada di dekatnya akan menghirup udara yang telah terkontaminasi oleh bakteri tersebut. Penyebaran lewat udara ini (airborne) tentu amat ampuh



Seseorang yang terkena difteri sebenarnya bisa disembuhkan. Dokter dapat memberikan antitoksin lewat pembuluh darah untuk menetralkan racun bakteri Gram Positif ini. Antibiotik seperti penisilin dan eritromisin dapat membunuh bakteri yang ada dalam tubuh sekaligus membersihkan infeksi. Sedikit kendala mungkin terjadi jika ia memiliki alergi pada antitoksin. Namun, antitoksin dapat diberikan dengan dosis kecil dan kenaikan bertahap.

Vaksinisasi adalah cara terbaik menangani difteri.

Vaksinisasi diberikan lewat suntikan - suntikandi bagian lengan atau paha. Suntikan vaksin mungkin memberikan beberapa efek samping, seperti nyeri, mengantuk, demam ringan, dan ini yang menyebabkan orang orang menjadi lebih rewel.

Vaksin untuk difteri ada tiga jenis, yaitu DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td. Vaksin ini diberikan pada usia yang berbeda :
  • Bayi di bawah satu tahun diberikan tiga dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak satu bulan
  • Anak usia 18 bulan diberikan satu dosis vaksin DPT-HB-Hib
  • Anak sekolah kelas 1 SD diberikan satu dosis vaksin DT di bulan November
  • Anak sekolah kelas 2 SD diberikan satu dosis vaksin Td di bulan November
  • Anak sekolah kelas 5 SD diberikan satu dosis vaksin Td di bulan November

Jadi, penting untuk orangtua atau wali memastikan apakah anak sudah menerima imunisasi lengkap sesuai jadwalnya. Jika dirasa belum lengkap, mohon maka segera dilengkapi. Sebab ini bisa jadi anak akan memiliki risiko terkena difteri saat ia dewasa.

Ketika dewasa, memang ada kejadian dimana keampuhan vaksin berkurang sehingga diharuskan imunisasi lagi. Apalagi jika dulunya menolak imunisasi.

Idealnya, vaksin difteri diberikan sebanyak tiga dosis sejak usia dua tahun hingga usia 18 tahun (usia 5 tahun, 10-12 tahun, dan 18 tahun). Setelah itu, vaksin akan semakin efektif bila diberikan setiap 10 tahun selama seumur hidup. Setelah 10 tahun perlu diberikan booster atau penguat. Menurut Center for Disease Control and Prevention (CDC), pemberian vaksin difteri untuk orang diberikan pada usia 19-64 tahun sebanyak satu dosis, dengan jadwal :
  • Orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin Td atau belum lengkap status imunisasinya, diberikan 1 dosis vaksin Tdap diikuti dengan vaksin Td sebagai penguat setiap 10 tahun.
  • Orang dewasa yang sama sekali tidak diimunisasi, diberikan dua dosis pertama dengan jarak 4 minggu dan dosis ketiga diberikan setelah 6 sampai 12 bulan dari dosis kedua
  • Orang dewasa yang belum menyelesaikan tiga dosis vaksin Td seri primer diberikan sisa dosis yang belum dipenuhi

Sayangnya, Di Indonesia memang belum memiliki program imunisasi difteri untuk dewasa. Ini sebabnya kamu perlu memastikan apakah status imunisasi mu itu dulu sudah lengkap atau belum. Apa waktu SD pernah ngumpet pas mau divaksin?

Jika dirasa belum, segeralah vaksin difteri untuk mencegah penyakit difteri. Terus, kalau ada salah satu orang yang termasuk suspek difteri di lingkungan sekitar, maka kamu atau pihak berwenang disitu harus segera meminta divaksinasi ulang meskipun sudah pernah divaksin saat kecil.

jadwal imunisasi
Simpan nih daftar imunisasi lengkap

Nah. Merespon kejadian difteri belakangan ini, mulai 11 Desember 2017, di Jakarta, Banten & Jawa Barat akan diadakan ORI (Outbreak Response Immunization)
ORI akan dilakukan 3 putaran:

  1. Jarak pemberian putaran pertama dan kedua 1 bulan (Jika putaran pertama 11 Desember 2017, maka putaran kedua 11 Januari 2018)
  2. Jarak antara putaran kedua dan ketiga adalah 6 bulan
  3. putaran ketiga mulai 11 Juli 2018.


Mari urun membantu. Apa perlu kak Seto sleding situ dulu?
Continue Reading...
Previous PostPostingan Lama Beranda